Prabowo, Kebijakan Impor, dan Upaya Menghadapi Ketidakpastian Perekonomian Global
Donald Trump terhadap berbagai negara telah mengguncang stabilitas ekonomi global. Langkah ini menimbulkan riak yang mempengaruhi perdagangan internasional dan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia. Kebijakan proteksionis ini memicu banyak negara untuk mencari cara agar dapat bertahan di tengah arus global yang semakin dinamis.
Merespons tantangan ini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Said Abdullah, mengapresiasi langkah-langkah strategi yang diambil Presiden Prabowo dalam menyikapi kebijakan-kebijakan internasional yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. Dalam pertemuan dengan para pengusaha pada Selasa (8/6/2025), Presiden Prabowo mengumumkan kebijakan untuk menghapus kuota impor untuk barang-barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
1. Penghapusan Kuota Impor: Langkah Positif untuk Pengusaha
Said Abdullah menilai kebijakan yang diambil Prabowo adalah angin segar bagi perbaikan kebijakan impor Indonesia. “Arahan Presiden Prabowo ini tentu menjadi angin segar bagi perbaikan kebijakan impor,” ungkap Said dalam keterangan yang diterima. Penghapusan kebijakan kuota impor untuk barang-barang yang mencakup kebutuhan dasar masyarakat ini menjadi sebuah langkah yang membuka ruang lebih besar bagi pengusaha untuk mengakses barang yang diperlukan tanpa terkendala batasan-batasan yang ketat.
Namun, kebijakan ini tentu harus dilihat dalam konteks yang lebih besar. DPP PDI-P menekankan pentingnya kebijakan impor yang mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari keseimbangan perdagangan (trade balance) hingga upaya untuk memperkuat industri dalam negeri.
2. Mengelola Neraca Perdagangan dengan Bijak
Said Abdullah menyebutkan, kebijakan impor harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan neraca perdagangan negara agar tetap berada pada posisi surplus. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan perekonomian nasional dan mencegah cadangan devisa terkuras habis akibat defisit perdagangan.
Meskipun demikian, meskipun kebijakan impor penting dalam jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan barang yang tidak tersedia di dalam negeri, Indonesia harus segera berupaya untuk mengurangi ketergantungannya dengan meningkatkan produksi dalam negeri .
3. Substitusi Impor dengan Produksi Domestik
Lebih lanjut, Said menganjurkan agar kebijakan impor Ditempatkan sebagai barang substitusi sementara waktu, yaitu untuk barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri. “Namun, Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan atas barang-barang impor dengan produksinya sendiri. Dengan arah strategi, kita bisa menjadi negara yang relatif mandiri, setidaknya dari sektor primer, yakni pangan dan energi,” jelas Said.

Peningkatan produksi dalam negeri di sektor-sektor penting seperti pangan dan energi menjadi kunci untuk menciptakan kemandirian ekonomi yang lebih kuat. Dengan memprioritaskan peningkatan produksi domestik, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor, yang akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
Baca Juga : Klasemen F1 2019 Usai Bottas Menangi GP Australia
4. Penguatan Industri Nasional dan Peningkatan TKDN
Selain itu, kebijakan penting harus sejalan dengan upaya untuk memperkuat industri nasional . Said Abdullah menekankan pentingnya mengembangkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dalam berbagai produk yang ada di pasar. “Kebijakan penting harus mempertimbangkan arah kebijakan lain untuk memperkuat industri nasional,” ujar Said.
Peningkatan TKDN juga dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk Indonesia, serta memberikan insentif bagi pelaku industri lokal untuk lebih fokus pada inovasi dan kualitas produk. Hal ini pada gilirannya akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian Indonesia.
Kesimpulan: Menghadapi Ketidakpastian dengan Kebijakan Cerdas
Kebijakan Presiden Prabowo yang menghapus kuota impor barang-barang yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak adalah langkah yang tepat di tengah penyebaran ekonomi global. Namun, kebijakan impor Indonesia harus tetap dilakukan dengan bijaksana. Fokus pada neraca perdagangan, pengurangan ketergantungan pada impor, dan penguatan industri dalam negeri melalui peningkatan TKDN merupakan langkah penting untuk menuju kemandirian ekonomi.
Sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi lebih mandiri dalam berbagai sektor.
















