
Sarmi – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan keputusan yang cukup mengejutkan: Pemerintah batal memberikan diskon tarif listrik untuk bulan Juni dan Juli 2025. Hal ini disebabkan oleh lambatnya proses penganggaran yang tidak dapat memenuhi target waktu yang diinginkan. Sri Mulyani mengungkapkan keputusan tersebut setelah pertemuan dengan para menteri dan Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Keterlambatan Penganggaran Jadi Penyebab Utama
Sri Mulyani menjelaskan bahwa meskipun awalnya diskon tarif listrik untuk dua bulan yang direncanakan, proses penganggarannya ternyata lebih lambat dari yang diharapkan. Dengan adanya keterlambatan ini, akhirnya disepakati untuk tidak melanjutkan rencana pemadaman listrik tersebut. “Untuk pelaksanaan diskon listrik ternyata untuk kebutuhan atau proses penganggarannya jauh lebih lambat, sehingga kalau tujuan kita adalah untuk Juni dan Juli, kami memutuskan (diskon ini) tidak bisa dijalankan,” ujar Sri Mulyani.
Namun, pemerintah tidak membiarkan masyarakat terabaikan begitu saja. Sebagai pengganti diskon listrik, Sri Mulyani mengumumkan bahwa bantuan subsidi upah (BSU) akan diberikan dengan peningkatan jumlah yang signifikan.
Subsidi Upah: Solusi Alternatif yang Lebih Tepat Sasaran

Sebagai pengganti diskon listrik yang dibatalkan, pemerintah memutuskan untuk menyalurkan subsidi upah kepada pekerja dan guru honorer.
Baja Juga ; Tunggal Putra Paceklik Gelar All England 25 Tahun, Ini Saran Untuk Jonatan dkk
Subsidi ini diharapkan dapat membantu meringankan beban hidup pekerja dengan pendapatan rendah, terutama di tengah situasi ekonomi yang masih penuh tantangan. Sri Mulyani menambahkan, alokasi dana untuk subsidi ini sudah lebih siap karena data pekerja di BPJS Ketenagakerjaan telah dibersihkan dan siap diberikan kepada mereka yang memenuhi syarat.
“Sekarang karena BPJS Ketenagakerjaan datanya sudah clean, untuk betul-betul pekerja yang (gajinya) di bawah Rp 3,5 juta dan sudah siap, maka kami memutuskan dengan kesiapan data dan kecepatan program untuk mentargetkan (mengalokasikan ke) bantuan subsidi upah,” jelasnya.
Bantuan untuk Guru Honorer: Pemerintah Tidak Melupakan Mereka
Selain pekerja, guru honorer juga menjadi penerima BSU. Menurut Sri Mulyani, sebanyak 565.000 guru honorer akan menerima bantuan subsidi ini.
Keputusan yang Penuh Pertimbangan
Keputusan untuk membatalkan diskon listrik dan menggantinya dengan BSU tentu bukan tanpa alasan. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Ketenagakerjaan telah mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan kebutuhan data yang valid.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Langkah pemerintah ini tentu menjadi sorotan, namun juga menunjukkan fleksibilitas dalam merespons perubahan dan dinamika yang ada.















